saç protezi rolex replika saat TREND HALAL, PUAS JADI PENONTON ATAU INGIN JADI AKTOR – AriSaptono

TREND HALAL, PUAS JADI PENONTON ATAU INGIN JADI AKTOR

Sekarang ini mayoritas umat Islam didunia telah diyakini lebih memilih mengkonsumsi produk-produk halal dan mulai meninggalkan yang haram.

Halal kini telah menjadi trend dunia, kini halal bukan hanya sekedar soal makanan saja. Bahwa halal saat ini telah menjadi trend gaya hidup atau lifestyle. Dan halal telah menjadi list prioritas diskusi dari para pengusaha untuk menjadikan produk halal sebagai pundi keuntungan perusahaannya.

Saat ini pangsa pasar produk halal dunia mencapai US$2,3 triliun dan diperkirakan menjadi US$3,7 triliun pada 2019.

Tak heran trend halal tidak hanya booming di negara Muslim saja, tapi saat ini sudah menjadi urusan dunia. Negara-negara maju di Asia, Eropa, dan Amerika, saat ini lebih banyak mengkonsentrasikan diri secara total dibidang produk-produk halal untuk menambah devisa negara.

Sementara itu Indonesia mempunyai populasi Muslim terbesar didunia. Yaitu; 205 juta penduduk Indonesia beragama Islam atau sebesar 12,7 persen dari total populasi dunia.

Menurut saya seharusnya dengan populasi terbesar didunia, Indonesia punya nilai tawar yang tinggi untuk menjadi Hub atau pengatur jalur lalulintas perdagangan produk halal keseluruh negara Muslim. Atau paling tidak untuk jalur perdagangan negara Muslim diwilayah Asia Tenggara jika tak mampu seluruh dunia.

Sayangnya itu tak terjadi, Indonesia lebih suka menempatkan diri sebagai obyek pasar bagi produk-produk halal dari negara lain. Negeri tercinta yang berpenduduk Muslim paling besar didunia ini, hanya menjadi ceruk pasar empuk bagi produk-produk halal negara lain. Berbagai produk halal dari berbagai negara bertebaran di tanah air tercinta ini. Alhasil kita hanya puas sebagai penonton atas berkembangnya trend produk halal dunia.

Terkadang sertifikasi produk halal yang telah diperoleh suatu produk disatu negara, bisa tidak lolos status halalnya di negara lainnya. Mungkin
perbedaan standar sertifikasi halal satu negara dengan negara lain itulah yang menjadikan kendala untuk menyeragamkan standarisasi produk halal secara global.

Akan tetapi jika negara barat telah memiliki standar sertifikasi produk yang akan masuk pasar diwilayah mereka, kenapa tidak dibuat juga standar sertifikasi produk halal yang akan masuk ke pasar negara Muslim. Dan sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar didunia, Indonesia bisa memainkan peranan sebagai leader atas hal tersebut.

Pertanyaannya, kita memang tidak mampu atau tidak mau…? Trend peradaban halal yang lagi booming secara global ini, apakah kita lebih puas sebagai penonton atau ingin sebagai aktor.

Perlu juga diantisipasi dan disikapi bahwa perkembangan peradaban halal diera disruption ini, sangat mungkin perwujudan interaksi hub atau pengaturan jalur perdagangan produk halal ke pasar negara Muslim tak perlu lagi ada kontak fisik. Cukup melalui aplikasi berbasis online atau sejenis dengan aplikasi e-commerce.

Seperti halnya yang telah dilakukan oleh Aladinstreet.com, e-commerce penyedia barang-barang berlabel halal dibawah Aladdin Group dari Malaysia yang minggu lalu telah melakukan tanda tangan kontrak kerjasama sebagai hub atau pengatur perdagangan apparel club raksasa sepakbola asal Inggris Manchester United yang berbahan baku halal untuk wilayah pasar Asia.

Hhmm, lagi-lagi negara lain lebih dulu merespon cepat atas trend halal yang telah menjadi kebutuhan pasar dunia.

Please follow and like us:
0