saç protezi rolex replika saat MENJAGA MARWAH PENDIDIKAN – AriSaptono

MENJAGA MARWAH PENDIDIKAN

img_20161125_053229
Berapa guru yang hidup ? Sebab hanya melalui gurulah kita dapat membangun kembali negeri ini. Dengan guru-guru yang tersisa, saya yakin Jepang akan bangkit kembali, dan akan lebih hebat sebelum perang terjadi.

itu adalah perkataan Kaisar Jepang Hirohito sesaat setelah mendengar laporan dari penasehatnya tentang kehancuran Jepang akibat serangan bom atom oleh Amerika. Dan Kaisar pun langsung blusukkan menemui guru-guru yang tersisa untuk diberi arahan dan segera memerintahkan menterinya agar mensejahterakan semua guru.

Dapat dimaknai bahwa betapa besar perhatian Kaisar Hirohito terhadap marwah pendidikan. Menurutnya, hal itu akan dapat merubah suatu bangsa menjadi lebih hebat. Dan faktanya, kini Jepang menjadi negara yang kuat dan maju.

Bagaimana dengan pendidikan kita?? Apakah pendidikan bermarwah ??

Bicara pendidikan adalah bicara masa depan. Sebab pendidikkan adalah pintu gerbang bagi sebuah generasi yang akan melukis masa depannya. Bukan hanya bagi pribadi dan keluarganya, melainkan bagi bangsanya bahkan bagi peradaban dunia.

Sebab berbicara tentang pendidikan dalam konteks negara, bukan sekedar bicara tentang belajar dan mengajar, tapi sejatinya kita berbicara tentang mimpi dan imajinasi masa depan sebuah bangsa.

Sangat penting bagi seluruh anak bangsa menjaga marwah pendidikan kita. Jika marwah pendidikan terjaga, maka akan menghasilkan pendidikan yang berkarakter dan berkualitas. Itu adalah modal bangsa agar memiliki masa depan yang kuat dan tangguh.

Dengan cara pandang tersebut, maka negara dan pemerintah haruslah meningkatkan kesejahteraan guru sebagai prioritas utama dalam kerangka menjaga marwah pendidikan di negeri tercinta ini.

Sayangnya perbaikan kesejahteraan para guru, sejauh ini masih hanya sebatas hidangan hiruk-pikuk pesta kampanye politik saja.

Dan ironisnya praktisi pendidikkan yang saat ini terlibat dalam kancah perpolitikan, sejatinya mewakili suara dari dunia pendidikkan. Namun justru mereka keasyikkan menikmati arena berpolitik. Tentu ide-ide brilian demi kemajuan pendidikan Indonesia jadi minim. Pun kecenderungan politisasi profesi guru juga minim diproteksi.

Apabila opini masyarakat makin terakumulasi bahwa guru cenderung lebih sering dijadikan sebagai alat politik, maka marwah pendidikkan akan terganggu, atau bahkan menjadi luntur. Tak heran apabila para peserta didik berperilaku tak hormat kepada para pendidik. Sepeti halnya yang kini sering kali dipertontonkan. Yakni; Adanya siswa atau orang tua siswa yang berlaku tak seharusnya kepada guru.

Nah, jika negara dan pemerintah lebih serius meningkatkan kesejahteraan guru, tentunya untuk sejahtera, para guru tidak perlu lagi ‘side job’. Atau pindah profesi jadi politisi karena mungkin politisi lebih moncer kesejahteraanya. Atau jika ada guru yang terlanjur berpolitik, akan lebih nyambung ide-idenya untuk kemajuan pendidikan Indonesia.

Sebab guru akan lebih nyaman dan serius terhadap peofesinya. Dengan demikian marwah pendidikan akan terjaga, demi mewujudkan visi pendidikan nasional yang merupakan fondasi bagi kemajuan dan kehebatan NKRI.

Selamat Hari Guru Nasional…!!
Semoga pendidikan nasional semakin berkualitas dan membawa kemajuan bagi NKRI.

Please follow and like us:
0