BUKAN CUMA BLUNDER ELEKTORAL

Selama 15 tahun lebih berkarir di bidang integrated marketing and communication, tentu aku selalu berhubungan dengan klien, relasi atau partner bisnis yang mayoritas Chinese. Bahkan partner bisnisku di kantor yang sudah seperti keluargaku sendiri juga Chinese.

Mereka semua ceplas-ceplos, kritis, dan kadang juga menghardik. Akan tetapi semua itu tetap dalam koridor etika dan tatakrama yang saling menghargai dan menghormati. Dahsyatnya, justru kadang mereka yang sering mengingatkanku agar tidak telat mejalankan ibadah wajib.

Klien, relasi atau partner bisnis, nampak sekali mereka semua masih sangat teguh memegang tradisi Chinese leluhur mereka. Percakapan sehari-hari merekapun masih menggunakan bahasa leluhurnya. Hal itu bukan untuk membentengi eksklusifitas, tetapi dalam rangka untuk melandasi dan mempererat kerjasama yang lebih baik, disiplin, bermanfaat, beretika, serta saling menghargai. Seperti halnya yang telah diwariskan oleh para leluhur kita masing-masing.

Mereka keturunan Chinese yang kental dan sangat memiliki etika dan tatakrama. Mereka amat tegas dan kritis tapi bukan asal bicara kasar, apalagi asal nyomot kitab suci agama lain yang sama sekali tak mengimaninya lalu menafsirkannya dengan asal-asalan hanya sekedar untuk kampanye.

Begitulah selama ini yang ku tahu dan ku kenal tentang saudara-saudara setanah air keturunan Chinese.

Memang banyak juga sih Chinese yang brengsek, seperti Edy Tanzil dan para pengemplang BLBI yang kini masih kabur, dan juga para penjahat reklamasi yang hingga saat ini masih proses hukum.

Nah, kalo koh Ahok yang kini lagi seru dihebohkan oleh masalah penistaan agama, dia itu keturunan mana ?? Sejujurnya aku ngga paham, tapi jika doi keturunan Chinese barangkali yang KW. Sebab perangainya jauh dari kebanyakan orang Chinese yang selama ini aku kenal. Sebagai pemimpin, seyogyanya doi lebih mengutamakan etika dan tatakrama. Sebab begitulah seorang pemimpin seharusnya bersikap.

Apalagi kita hidup di negara yang sangat menjunjung tinggi etika dan tatakrama, saling hormat menghormati, menghargai satu sama lain. Maka, akan lebih mulia jika sebagai pemimpin, Ahok dapat lebih menghargai agama dan keyakinan orang lain. Seperti yang telah diajarkan oleh para leluhurnya tersebut. Dengan catatan jika benar dia keturunan Chinese, tentu tahu ajaran leluhurnya yang amat luhur tersebut.

Sikap dan perilaku sosok pejabat adalah sebagai panutan masyarakatnya, saat ini Ahok masih aktif sebagai pejabat publik. Sosoknya sebagai incumbent pemimpin daerah yang menjadi ibu kota negara dan memiliki APBD tertinggi, begitu penuh kontroversi, tentu membuat intensitas kemunculannya dimedia sangat dominan. Sehingga menjadikanya mudah dikenali serta berpotensi disukai oleh seluruh kalangan bahkan anak muda hingga anak kecil. Dengan demikian Ahok tinggal memanfaatkannya untuk menyebarkan hal-hal yang positive guna memperoleh simpati secara maksimal.

Sungguh mengherankan bila hanya soal ketakutan bahwa kelompok Muslim tidak akan memilihnya pada Pilgub DKI 2017. Pejabat sekelas Ahok justru lebih suka memanfaatkan jabatannya untuk bicara secara represif, tendensif dan asal-asalan tanpa kontrol. Alhasil, aksi pidatonya di Pulau Seribu beberapa waktu lalu telah membuatnya blunder. Karena semua kalangan menganggap Ahok telah menistakan kitab suci agama Islam, yang notabene agama mayoritas di negeri tercinta ini.

“Saya sampaikan kepada semua umat Islam atau kepada yang merasa tersinggung, saya sampaikan mohon maaf. Tidak ada maksud saya melecehkan agama Islam atau apa,” kata Ahok di Balai Kota DKI Jakarta, seperti yang dikutip kompas.com.

Ahok memang telah mengakui serta mengucapkan permintaan maaf kepada umat Islam atas ucapannya yang telah melecehkan kitab suci. Dan Ahok berjanji tidak akan mengulanginya lagi.

Namun bagaimanpun juga, pidatonya di Pulau Seribu tetap saja blunder. Bukan cuma blunder secara elektoral, tapi bisa juga mengancam keberagaman umat yang merupakan ciri bangsa Indonesia pada umumnya dan Jakarta pada khususnya. Disamping itu bisa mungkin membuat blunder pencalonannya. Jika laporan penistaan agama terhadap Ahok ditindak lanjuti prosesnya oleh Polri.

“Bos, ane kagak yakiin koh Ahok bakalan nepatin janjinye…?”. Mulai nih usulan usil si Basri sambil menampakkan mimiknya yang khas. “Semoga dia inget janjinya…emang kenapa…?”, kataku sekaligus aku bertanya penasaran.

“Gini bos, dulu doi janji mau maju sebagai Cagub Independen…katanya kalo menjadi Cagub yang diusung partai maharnya mahal…dan doi juga janji ngga ninggalin Teman Ahok…nah, buktinya mane bos…?”, kata Basri sambil naikin pundaknya.

Waahh…si Basri ada benernya juga tuh…. 😁😁😁😁😁

Please follow and like us:
0