saç protezi rolex replika saat Cinta Era Digital – AriSaptono

Cinta Era Digital

(Adakah Cinta bersih bercahaya?)

Cinta bagi umat manusia adalah cahaya kehidupan, tetapi bisa juga berupa kegelapan untuk sebagian dari mereka. Memang tak dapat dipungkiri bahwa akhir-akhir ini justru cinta telah menyempitkan rasa kemanusiaan pada segelintir orang. Karena cinta telah memperbudak mereka sehigga membuat merekat berperilaku aneh-aneh.

Dengan cara membuat persekutuan dan mengatasnamakan Cinta Demokrasi dan Cinta Perdamaian, sekelompok manusia atau bangsa dapat menghalalkan penjajahan secara ekonomi dan tekhnologi, bahkan menghalalkan penjarahan hak, dari hanya sekedar hak berpendapat sampai dengan hak berkehidupan layak. Seolah-olah merekalah yang memiliki seluruh isi dunia ini, sehingga mereka berhak mengadili dan menghukum sesuka hatinya.

Cinta yang ada saat ini seolah-olah sudah berpihak kepada seseorang atau bangsa adidaya, sekalipun sikap dan perilakunya lebih sering meperlihatkan kecurangan. Persoalan-persoalan menjadi semakin mudah bagi mereka yang gampang merogoh kantong. Begitu mudah mereka memutar balikkan cinta agar dapat menghakimi seseorang atau bangsa yang lemah hanya karena tidak sefaham, meskipun tindakan-tindakan itu amat melanggar Cinta Demokrasi dan Cinta Perdamaian yang mereka dengungkan sendiri.

Mestinya…
Cinta saling bersalaman…
Cinta saling berpelukan…
Cinta tidak melakukan penyerangan…
Cinta tidak ada pembantaian…

Mestinya…
Cinta bertindak bijak…
Cinta tidak memihak…
Cinta anugerah untuk semua…

Karena cinta bersih bercahaya…
Karena cinta seperti matahari…
Seluruh mahluk tersinari…

Cinta yang ada di era digital ini telah banyak memperkeruh hati dan nalar, akibatnya tidak hanya perseteruan antar suku, agama atau bangsa, tetapi dapat berimbas pula terhadap kehidupan pribadi. Yaitu; adanya seorang istri yang tidak menaruh hormat lagi kepada suaminya meskipun masih dalam satu selimut, atau seorang lelaki secara sengaja meninggalkan istri dan anaknya, padahal usia perkawinannya baru seumur anak pertamanya yang belum genap satu tahun. Semua itu karena untuk melakukan percintaan semu yang menggelapkan hati.

Cinta di era digital ini telah membekukan nurani, akibatnya kita bisa lihat bahwa; seseorang akan dapat segera menghunus pedangnya dan bergegas melangkah tegap, siap bergumul pada kilatan-kilatan tebasan pedang. Bahkan seseorang bisa sampai hati untuk memutilasi seseorang hanya karena ia dianggap menggoda pasangan gay-nya. Kenapa? karena otak dan hatinya sudah dibakar permainan cinta yang menjerumuskan.

Apakah di jaman yang konon katanya serba digital ini masih menyisakan rasa cinta bersih bercahaya? Ataukah cinta sudah menjadi sebuah wacana digital?

Dengan demikian tidak diperlukan lagi interaksi fisik karena mungkin cinta sudah menjadi interaksi maya. Celakalah kalo memang demikian, sebab cinta hanyalah sebatas wacana tanpa ada implementasinya. Padahal cinta yang bersih bercahaya adalah sebagai landasan agar ukhuwah antar mahluk terjalin dengan saling menghormati dan saling menyayangi.

Jika kita menengok masa-masa revolusi, cinta murni terpatri didada setiap pahlawan. Sehingga rasa cinta di hati mereka bersih dan bercahaya. Para pahlawan republik ini rela disiksa lahir dan batin demi membela cintanya kepada negara dan agama, mereka rela berkorban harta dan nyawa karena mereka sangat mencintai Republik ini. Mereka rela meninggalkan nikmatnya bercengkerama diantara keluarganya dan tanpa sempat sepatah kata pamit kepada sanak saudara karena tergesa-gesa harus pergi dalam menjalankan misi cinta sucinya. Yaitu; “Merdeka atau mati”

Perubahan cinta di era digital ini sepertinya justru berada di ujung kepunahan. Sebab sendi-sendi kehidupan telah kehilangan iramanya, keharmonisan pelan-pelan mulai terkikis, kesantunan melayang jauh ditelan kemunafikan. Hal tersebut tergambar jelas, bagaiman mungkin ada seorang ibu berapi-api mengutuk darah dagingnya sendiri didepan kamera televisi dan justru secara sengaja mempertotonkannya kepada masyarakat umum, dia tidak sadar bahwa ucapannya adalah doa. Dan ada juga seorang anak yang telah hilang kerinduan kepada orang tuanya bahkan mungkin najis baginya untuk sekedar bertatap muka karena merasa kecewa atas perlakuan “cinta” sang orang tua waktu dulu kepada dirinya.

Perubahan cinta era digital sepertinya justru makin melencengkan perilaku cinta. Kian banyak perlakukan cinta yang justru menjurus kepada kebiadapan. Dan ironisnya kelompok yang notabene masih remaja, namun telah mampu melakukan hal biadap. Mereka melakukan perkosaan bahkan pembunuhan terhadap korban-korban yang juga masih tergolong anak-anak.

Hanya cinta bersih bercahaya…
Merobohkan kokohnya kesombongan…
Meredam gejolak-gejolak kemarahan…
Meluluh lantakkan lambang-lambang kebencian…
Mengkaramkan kapal-kapal kepongahan…
Menyumbat letupan senapan permusuhan…

Bagaimanakah tentang perubahan cinta di era digital ini ?? Masih adakah cinta bersih bercahaya ?? Masihkah Kemilau sinar cinta melingkupi ruang kepala manusia agar menunda keinginan untuk saling mengejek dan mencibir satu sama lainnya? Pancaran sinarnya mampu menahan untuk tidak saling berteriak mencaci maki? Tidak saling melancarkan aksi terror, tidak saling melemparkan molotov, dan tidak saling menyerang dan membunuh..??

Bila memang masih ada cinta bersih bercahaya disetiap sanubari individu di era digital ini, kenapa masih banyak daerah-daerah yang masih dilanda konflik karena menyingung soal “cinta”. Kenapa masih ada negara yang dijajah kemerdekaan nya tanpa berkesudahan. Kenapa masih ada saja negara yang sangat serakah mengorek-mengorek hasil bumi negara lain. Kenapa masih ada orang yang bisa tetap menumpuk pundi-pundi kekayaan pribadi dengan cara-cara kotor bahkan sampai disimpan di dalam ember cucian, sementara ada yang tidak memiliki uang sepeserpun hanya untuk sekedar membeli sepiring nasi. Kenapa masih ada saling bullying baik secara fisik atau di arena digital hanya karena saling singgung menyinggung idolanya, hanya karena perbadaan paham.

Bertumpuk di benak “kenapa?”
Adakah tersirat rasa cinta bermakna…
Apakah kita masih senang berikrar cinta…
Sebab tak ada yang dapat mendalami cinta…
Kecuali Sang Maha Cinta…

Please follow and like us:
0

24 Comments

  1. Pingback: obat herbal kondiloma

  2. Pingback: Obat Sembelit Jepang

  3. Pingback: Obat Wasir Ambeien Herbal di Sarmi

  4. Pingback: Obat Wasir Ambeien Herbal di Labuhanbatu Selatan

  5. Pingback: beli obat kutil kelamin diBanten ampuh

  6. Pingback: Obat Wasir Ambeien Herbal di Bantaeng

  7. Pingback: Obat Wasir Ambeien Herbal di Banyumas

  8. Pingback: apakah kutil kelamin itu berbahaya

  9. Pingback: Pengobatan Kutil Di Anus

  10. Pingback: Penyebab Kutil Kelamin Tumbuh Lagi

  11. Pingback: kutil kelamin di mulut

  12. Pingback: Apa Penyebab Terjadinya Wasir

  13. Pingback: obat kutil kelamin di kimia farma

  14. Pingback: Obat Herpes Genital Di Malaysia

  15. Pingback: Cara Menyembuhkan Kutil Pada Kelamin

  16. Pingback: Kutil Kemaluan Berbahaya

  17. Pingback: cara menghilangkan wasir dengan bawang putih

  18. Pingback: Obat Paru-paru ( ispa) (TBC

  19. Pingback: Cara Mengobati Penyakit Kondiloma Akuminata

  20. Pingback: obat kutil pada kelamin laki laki

  21. Pingback: Obat kutil kelamin

  22. Pingback: Nama - Nama obat kutil kelamin

  23. Pingback: bahis siteleri

  24. Pingback: obat gatal kutil kelamin

Comments are closed.